Tentang Penelitian Itu

Pernyataan ini sudah lapuk, namun tetap saja layak di ulang, bahwa tidak ada negara, masyarakat, perusahaan atau perseorangan yang maju tanpa landasan pendidikan dan penelitian yang kuat. Jika pun ada, hanyalah berkah sesaat dari langit, dan karunia itu tidak bertahan lama jika kekayaan yang diperoleh tidak ditanam kembali untuk memperkuat pendidikan, penelitian, pengembangan produk dan jasa, dan lalu memperdagangkannya.

Masalah bagi sebagian besar negara berkembang dan terbelakang adalah karena banyak diantara pemimpinnya terlalu disibukkan dengan permainan kekuasaan, apakah melawan kaumnya sendiri, baik yang direkayasa kekuatan asing maupun tidak, atau pun kewalahan menghadapi kekuatan maha dahsyat dari apa yang disebut John Perkins sebagai corporatocracy, sehingga menyisakan sedikit perhatian pada pendidikan dan kesejahteraan rakyatnya.

Meski kedigdayaan persenjataan dan sistem yang bersumber pada pengetahuan dan rekayasa yang seunggul apa pun akan sangat sulit untuk membunuh pemikiran akan kebenaran, keadilan dan martabat bangsa, namun kedigdayaan itu telah terbukti mampu menghisap kekayaan dan memiskinkan sebagian besar masyarakat dan bangsa yang kurang berpendidikan, terang-terangan maupun secara tersembunyi.

Karena itulah kita dukung keputusan pemerintah untuk melaksanakan ketetapan MPR dengan mengalokasikan 20% dari APBN 2009 untuk pendidikan, meski ada ketidakpuasan karena di dalamnya termasuk untuk gaji guru. Persiapan dan pengawasan pelaksanaan yang matang, dan penindakan tegas, akan meningkatkan ketepatan priotitas alokasi dana, dan memperkecil kebocoran karena korupsi.

Peningkatan anggaran penelitian dari 0,001% GDP di 2008 menjadi 0,157% GDP di 2009 nanti juga kita sambut baik. Sebagai perbandingan, persentase anggaran penelitian terhadap GDP di negara lain adalah: Thailand 0.28%, Malaysia 0.63%, Singapura 2.24% Taiwan 2.42%, dan Korea 2.63%. Sementara Jepang 3.20% dan Amerika Serikat 2.66% dari GDP.

Persoalannya bukanlah semata bagaimana agar rasio anggaran penelitian terhadap GDP bisa setingkat dengan negara lain, dan lalu berharap bangsa ini mampu melesat maju secara dramatis dalam waktu singkat. Sebaliknya lah yang akan terjadi jika kerangka prioritas penelitian dan pengawasannya tidak dipersiapkan secara matang.

Penelitian akan membawa kemajuan bangsa ketika terkait dengan peningkatan nilai tambah material yang dikeruk dan dihisap dari bumi, terkait dengan peningkatan kekuatan persenjataan militer dan mampu mendorong kegiatan perdagangan pengusaha nasional. Keterkaitan kuat antara kegiatan penelitian di laboratorium dengan kemajuan militer dan perdagangan nasional sangatlah penting.

Saat ini PT INKA, misalnya, telah mampu membuat gerbong kereta api sendiri dengan kualitas baik, dan kita syukuri itu. PT INKA tentunya berencana untuk meningkatkan kemampuannya untuk membuat rancang bangun lokomotif sendiri. Untuk itu PT INKA harus mendapat dukungan kuat dari perguruan tinggi, Teknik Mesin ITB dan UI misalnya, dengan mengarahkan penelitian sebagian dosen, mahasiswa S-2 atau Mahasiswa S1 untuk menopang pengembangan produk PT INKA.

Sementara itu Jurusan Teknik Kimia, Sekolah Farmasi, Biologi dan Teknik Mesin, sudah harus secara serius menjalin kerjasama penelitian yang kuat dengan pengusaha nasional dalam menciptakan alat dan reagen untuk diagnosa penyakit, seperti untuk TB, diabetes, infeksi, malaria, dengue, dsb. BBPT dan LIPI bisa berperan sebagai fasilitator maupun katalisator.

Perhatian yang lebih besar juga perlu dicurahkan terhadap penelitian dan pengembangan produk PT Dirgantara Indonesia, PT PINDAD, PT PAL, LAPAN dengan teknologi roket-nya, serta industri-industri strategis lain. Industri militer yang kuat dibutuhkan oleh negara untuk menjaga kedaulatan ekonomi dan politiknya.

Dewan Riset Nasional sepertinya harus bekerja lebih keras lagi, dan mungkin perlu diisi dengan lebih banyak pemikir dan praktisi penuh waktu, untuk terciptanya kerangka riset nasional terpadu yang jauh lebih tajam, terbentuknya jaringan riset pemerintah-perguruan tinggi-bumn-swasta-masyarakat yang kuat, dan pemanfaatan dana riset yang cerdas.

Catatan:
Penulisan artikel ini dibuat dalam bahasa Indonesia, terinspirasi oleh Tetralogi Buru karya emas Pramoedya Ananta Toer, terutama sekuel ketiga: Jejak Langkah. Tetralogi Buru terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.
Like | Tweet |